Rabu, 01 Mei 2013

Dakwah dan Hijrah Rasulullah ke Madinah


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dikota Mekkah telah kita ketahui bahwa bangsa Quraisy dengan segala upaya akan melumpuhkan gerakan Muhammad Saw. Hal ini di buktikan dengan pemboikotan yang dilakukan mereka kepada Bani Hasyim dan Bani Mutahlib. Di antara pemboikotan tersebut adalah:
1.      Memutuskan hubungan perkawinan.
2.    Memutuskan hubungan jual beli
3.    Memutuskan hubungan ziarah dan menziarah dan lain-lain. 
Pemboikotan tersebut tertulis di atas kertas shahifah atau plakat yang di gantungkan di kakbah dan tidak akan di cabut sebelum Nabi Muhammad SAW. Menghentikan gerakannya. Nabi Muhammad SAW. Merasakan bahwa tidak lagi sesuai di jadikan pusat dakwah Islam beliau bersama Zaid bin Haritsah hijrah ke Thaif untuk berdakwah ajaran itu ditolak dengan kasar Rasulullah. Di usir, di soraki dan dikejar-kejar sambil di lempari dengan batu. Walaupun terluka dan sakit, Beliau tetap sabar dan berlapang dada serta ikhlas menghadapi cobaan yang sedang di hadapinya.

B.   Rumusan Masalah
1.    Apa Pengertian Dakwah dan Hijrah ?
2.    Bagaimana Keadaan Yatsrib Sebelum Islam Datang ?
3.    Bagaimana Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW ke Yatsrib ?
4.    Bagaimana Yatsrib bisa menjadi Madinatun Nabiy ?
5.    Bagaimana Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah ?
6.    Apa Saja Hikmah Dakwah dan Hijrah Rasulullah ke Madinah ?

C.   Tujuan Penulisan
1.    Untuk Mengetahui Apa Pengertian Dakwah dan Hijrah.
2.    Untuk Mengetahui Keadaan Yatsrib Sebelum Islam Datang.
3.    Untuk Mengetahui Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW ke Yatsrib.
4.    Untuk Mengetahui Bagaimana Yatsrib Bisa Menjadi Madinatun Nabiy.
5.    Untuk Mengetahui Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah.
6.    Untuk Mengetahui Hikmah Dakwah dan Hijrah Rasulullah ke Madinah.

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Dakwah dan Hijrah
Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ini terjadi pada 12 Rabi’ul Awwal tahun pertama hijrah, yang bertepatan dengan 28 Juni 621 Masehi. Hijrah adalah sebuah peristiwa pindahnya Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah atas perintah Allah, untuk memperluas wilayah penyebaran Islam dan demi kemajuan Islam itu sendiri.

B.   Fajar dari Yatsrib (Madinah)
Para pengikut Nabi Muhammad SAW di Mekkah jumlahnya lebih sedikit dari sebelumnya. Tetapi Rasulullah tidak pernah menyerah dan berhenti berdakwah. Beliau yakin bahwa Allah akan memenangkan agama-Nya, sekalipun para pengingkar membencinya.
Pada saat-saat gelap ini fajar harapan mulai merekah dari arah yang tidak disangka-sangka oleh seorang pun. Fajar itu menyinsing dari arah Yatsrib (Madinah). Cukup jauh dari Mekkah, Yatsrib merupakan kota yang mempunyai banyak hubungan dengan Rasulullah. Paman-pamannya dari Bani Najjar berasal dari Yatsirb. Ayahnya Abdullah dikuburkan di situ dan ibunya Aminah dikuburkan di sebuah desa yang berdekatan. Beliau pernah pergi ke Yatsrib ketika masih kecil untuk mengunjungi kuburan ayahnya.
Yatsrib adalah kota yang lebih nyaman dibandingkan dengan Mekah, dengan iklim yang sedang dan naungan hijau pepohonan yang rimbun. Penduduknya terdiri dari dua suku al-Aus dan al-Khazraj, terdapat pula beberapa suku beragama Yahudi. Orang Yahudi yang menjadi minoritas, telah menciptakan salah pengertian dan saling membenci antara dua suku tersebut dengan maksud agar tetap aman dan menjadi kekuatan yang dominan. Kedua suku tersebut hidup dalam keadaan saling berperang, berselisih dan menyerang.
1.    Bai’atul Aqabah Pertama
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, banyak penduduk Yatsrib datang sebagai peziarah ke Mekkah. Diantara para peziarah, terdapat enam orang yang sangat terkesan oleh kepribadian dan kata-kata Rasulullah, mereka beranggapan bahwa Rasulullah mampu menolong mereka mengatasi berbagai kerusakan di Yatsrib. Lima dari enam orang tersebut datang dengan membawa tujuh orang temannya menemui Rasulullah.
Dua belas orang tersebut terdiri dari 10 orang suku Khazraj dan 2 orang suku Aus, mereka mewakili sebagian besar pikiran-pikiran orang Yatsrib, dan mereka mengatakan akan membuat perjanjian dengan Rasulullah untuk menerimanya sebagai Nabi dan mematuhinya, serta menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Mereka secara rahasia bersumpah setia kepada Rasulullah, isi perjanjian kesetiaan tersebut adalah:
a.  Tidak akan mempersekutukan Allah
b.  Tidak akan mencuri
c.   Tidak akan berzinah
d.   Tidak akan membunuh anak-anak
e.    Tidak akan fitnah-menfitnah
f.      Tidak akan mendurhakai Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah mengutus seorang sahabatnya Mush’ab ibn Umair, kepada mereka untuk mengajarkan Al-Qur’an dan praktik-praktik Islam, serta mengajak orang-orang Yatsrib untuk memeluk Islam, akan tetapi ia juga diharapkan memberikan informasi kepada Rasul tentang situasi politik di Yatsrib.
2.    Bai’atul Aqabah Kedua
Beberapa tahun kemudian serombongan muslimin dari Yastrib berjumlah 75 orang terdiri dari 73 laki-laki dan 2 orang perempuan, mereka berkumpul di Aqabah menemui Rasulullah dan melakukan sumpah di hadapan Rasulullah yang di dampingi Pamannya Abbas bin Abdul Muthalib. Isinya antara lain mereka berjanji akan membela dan melindungi Nabi Muhammad SAW sebagai mana mereka melindungi istri dan anak-anak mereka. Acara ini di tutup dengan doa oleh Abbas bin Abdul Muthalib. Pada waktu itu juga orang-orang Yastrib mengharapkan agar Rasulullah hijrah ke Yastrib. Mereka sangat bahagia dan akan membela Rasulullah dan Islam apabila beliau hijrah ke Yastrib.

C.   Hijrah ke Yatsrib
Rencana hijrah Rasulullah diawali karena adanya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib saat di Mekkah yang terdengar sampai ke kaum Quraisy hingga mereka pun merencanakan untuk membunuh Rasulullah. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Rasulullah, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Rasulullah menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy mengira bahwa Rasulullah masih tidur.
Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Rasulullah keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Rasulullah menemui Abu Bakar yang telah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan kota Mekkah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan aman.
Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy mulai menurun karena mengira Rasulullah sudah sampai di Yatsrib, keluarlah Rasulullah dan Abu Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2 ekor unta yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Berangkatlah Rasulullah bersama Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang tidak pernah ditempuh orang.
Setelah 7 hari perjalanan, Rasulullah dan Abu Bakar tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat selama beberapa hari. Mereka menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Rasulullah membangun sebuah masjid yang kemudian terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid pertama yang dibangun Rasulullah sebagai pusat peribadatan.
Tidak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Rasulullah. Sementara itu penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Menurut perhitungan mereka, berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya Rasulullah sudah tiba di Yatsrib. Oleh sebab itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan dan menyongsong kedatangan Rasulullah dan rombongan.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka mengelu-elukan kedatangan Rasulullah. Setiap orang ingin agar Rasulullah singgah dan menginap di rumahnya. Tetapi Rasulullah hanya berkata, “Aku akan menginap dimana untaku berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya.”
Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. Dengan demikian Rasulullah memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub, sementara kaum Muslimin bergotong-royong membangun rumah untuknya.

D.    Yatsrib Menjadi Madinatun Nabiy
Setelah Rasulullah tiba di Madinah dan diterima dengan sambutan yang hangat, penuh kerinduan, dan rasa hormat oleh penduduk Madinah, pada saat tu juga Rasulullah mengadakan salat jum’at untuk yang pertama kalinya dalam sejarah Islam, dan beliau pun berkhutbah di hadapan kaum Muslimin (Muhajirin dan Anshar). Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madinah an-Nabiy (kota nabi). Orang sering pula menyebutnya Madinah al-Munawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia.
Dengan hijrahnya Rasulullah ke Madinah, Islam makin bertambah kuat. Perkembangan Islam yang pesat itu membuat orang-orang Mekkah menjadi resah. Mereka takut kalau-kalau umat Islam memukul mereka dan membalas kekejaman yang pernah mereka lakukan. Mereka juga khawatir kafilah dagang mereka ke Suriah akan diganggu atau dikuasai oleh kaum muslimin.
Dalam usaha Membentuk Islam di Madinah ini, Rasulullah berjuang untuk memelihara dan mempertahankan masyarakat Islam yang dibinanya itu dari rongrongan musuh, baik dari dalam maupun dari luar. Rasulullah kemudian mengadakan beberapa ekspedisi ke luar kota, baik langsung di bawah pimpinannya maupun tidak. Hamzah bin Abdul Muttalib membawa 30 orang berpatroli ke pesisir Laut Merah. Ubaidah bin Haris membawa 60 orang menuju Wadi Rabiah. Sa'ad bin Abi Waqqas ke Hedzjaz dengan 8 orang Muhajirin. Rasulullah sendiri membawa pasukan ke Abwa dan disana berhasil mengikat perjanjian dengan Bani Damra, kemudian ke Buwat dengan membawa 200 orang Muhajirin dan Anshar, dan ke Usyairiah. Di sini Rasulullah mengadakan perjanjian dengan Bani Mudij.
Ekspedisi-ekspedisi tersebut sengaja digerakkan Rasulullah sebagai aksi-aksi siaga dan melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk. Perjanjian perdamaian dengan kabilah dimaksudkan sebagai usaha memperkuat kedudukan Madinah.
1.      Perang Badar
Perang Badar yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah dan kaun musyrikin Quraisy Mekkah terjadi pada tahun 2 H. Perang ini merupakan puncak dari serangkaian pertikaian yang terjadi antara pihak kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy. Perang ini berkobar setelah berbagai upaya perdamaian yang dilaksanakan Rasulullah gagal.
Tentara muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan perlengkapan senjata sederhana yang terdiri dari pedang, tombak, dan panah. Berkat kepemimpinan Rasulullah dan semangat pasukan yang membaja, kaum muslimin keluar sebagai pemenang. Abu Jahal, panglima perang pihak pasukan Quraisy dan musuh utama Rasulullah sejak awal, tewas dalam perang itu. Sebanyak 70 tewas dari pihak Quraisy, dan 70 orang lainnya menjadi tawanan. Di pihak kaum muslimin, hanya 14 yang gugur sebagai syuhada. Kemenangan itu sungguh merupakan pertolongan Allah SWT (QS. 3: 123).
Orang-orang Yahudi Madinah tidak senang dengan kemenangan kaum muslimin. Mereka memang tidak pernah sepenuh hati menerima perjanjian yang dibuat antara mereka dan Rasulullah dalam Piagam Madinah.
Sementara itu, dalam menangani persoalan tawanan perang, Rasulullah memutuskan untuk membebaskan para tawanan dengan tebusan sesuai kemampuan masing-masing. Tawanan yang pandai membaca dan menulis dibebaskan bila bersedia mengajari orang-orang Islam yang masih buta aksara. Namun tawanan yang tidak memiliki kekayaan dan kepandaian apa-apa pun tetap dibebaskan juga.
Tidak lama setelah perang Badar, Rasulullah mengadakan perjanjian dengan suku Badui yang kuat. Mereka ingin menjalin hubungan dengan Rasulullah karena melihat kekuatan Rasulullah. Tetapi ternyata suku-suku itu hanya memuja kekuatan semata.
Sesudah perang Badar, Rasulullah juga menyerang Bani Qainuqa, suku Yahudi Madinah yang berkomplot dengan orang-orang Mekkah. Rasulullah lalu mengusir kaum Yahudi itu ke Suriah.
2.      Perang Uhud
Perang yang terjadi di Bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3 H. Perang ini disebabkan karena keinginan balas dendam orang-orang Quraisy Mekkah yang kalah dalam perang Badar. Pasukan Quraisy, dengan dibantu oleh kabilah Tihama dan Kinanah, membawa 3.000 ekor unta dan 200 pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Tujuh ratus orang di antara mereka memakai baju besi.
Adapun jumlah pasukan Nabi Muhammad SAW hanya berjumlah 700 orang. Perang pun berkobar. Prajurit-prajurit Islam dapat memukul mundur pasukan musuh yang jauh lebih besar itu. Tentara Quraisy mulai mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta mereka.
Melihat kemenangan yang sudah di ambang pintu, pasukan pemanah yang ditempatkan oleh Rasulullah di puncak bukit meninggalkan pos mereka dan turun untuk mengambil harta peninggalan musuh. Mereka lupa akan pesan Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos mereka dalam keadaan bagaimana pun sebelum diperintahkan. Mereka tidak lagi menghiraukan gerakan musuh. Situasi ini dimanfaatkan musuh untuk segera melancarkan serangan balik. Tanpa konsentrasi penuh, pasukan Islam tak mampu menangkis serangan. Mereka terjepit, dan satu per satu pahlawan Islam berguguran. Rasulullah sendiri terkena serangan musuh.
Sisa-sisa pasukan Islam diselamatkan oleh berita tidak benar yang diterima musuh bahwa Rasulullah sudah meninggal. Berita ini membuat mereka mengendurkan serangan untuk kemudian mengakhiri pertempuran itu. Perang Uhuh ini menyebabkan 70 orang pejuang Islam gugur sebagai syuhada.
3.      Perang Khandaq
Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara kaum muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang mengungsi ke Khaibar yang bersekutu dengan masyarakat Mekah. Karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu beberapa suku).
Pasukan gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman al-Farisi, sahabat Rasulullah, mengusulkan agar kaum muslimin membuat parit pertahanan di bagian-bagian kota yang terbuka. Karena itulah perang ini disebut sebagai Perang Khandaq yang berarti parit.
Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tersebut mengepung Madinah dengan mendirikan perkemahan di luar parit hampir sebulan lamanya. Pengepungan ini cukup membuat masyarakat Madinah menderita karena hubungan mereka dengan dunia luar menjadi terputus. Suasana kritis itu diperparah pula oleh pengkhianatan orang-orang Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizah, dibawah pimpinan Ka'ab bin Asad.
Namun akhirnya pertolongan Allah SWT menyelamatkan kaum muslimin. Setelah sebulan mengadakan pengepungan, persediaan makanan pihak sekutu berkurang. Sementara itu pada malam hari angin dan badai turun dengan amat kencang, menghantam dan menerbangkan kemah-kemah dan seluruh perlengkapan tentara sekutu. Sehingga mereka terpaksa menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing tanpa suatu hasil. Para pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi hukuman mati. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzâb: 25-26.
4.      Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum muslimin untuk mengunjungi Mekah sangat bergelora. Rasulullah memimpin langsung sekitar 1.400 orang kaum muslimin berangkat umrah pada bulan suci Ramadhan, bulan yang dilarang adanya perang. Untuk itu mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya untuk menjaga diri, bukan untuk berperang.
Sebelum tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang terletak beberapa kilometer dari Mekkah. Orang-orang kafir Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Mekkah dengan menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga.
Akhirnya diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah, yang isinya antara lain:
a. Kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 10 tahun.
b. Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia harus dikembalikan. Tetapi bila ada pengikut Muhammad SAW yang menyeberang ke pihak Quraisy, pihak Quraisy tidak harus mengembalikannya ke pihak Muhammad SAW.
c.  Tiap kabilah bebas melakukan perjanjian baik dengan pihak Muhammad SAW maupun dengan pihak Quraisy.
d.  Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka'bah pada tahun tsb, tetapi ditangguhkan sampai tahun berikutnya.
e.  Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Mekah, orang Quraisy harus keluar lebih dulu.
f.    Kaum muslimin memasuki kota Mekah dengan tidak diizinkan membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak boleh tinggal di Mekah lebih dari 3 hari 3 malam.
Tujuan Rasulullah membuat perjanjian tersebut sebenarnya adalah berusaha merebut dan menguasai Mekah, untuk kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain.
Ada 2 faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini :
a.  Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam dapat tersebar ke luar.
b.  Apabila suku Quraisy dapat diislamkan, maka Islam akan memperoleh dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar di kalangan bangsa Arab.
Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai perjanjian. Banyak orang Quraisy yang masuk Islam setelah menyaksikan ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin, disamping juga melihat kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam Madinah.
Tak lama berselang, Allah yang maha besar, memperlihatkan hasil usaha sungguh sungguh dari seorang Mushaib. Berduyun-duyun manusia berikrar mengesakan Allah dan mengakui Rasulullah sebagai utusan Allah. Jika saat ia pergi ada 12 orang golongan kaum Anshar yang beriman, maka pada musim haji selanjutnya umat muslim Madinah mengirim perwakilan sebanyak 70 orang laki-laki dan 2 orang perempuan ke Makkah untuk menjumpai Nabi yang Ummi. Madinah semarak dengan cahaya.
Usaha gigih yang diperbuat Mushab membuat Benih benih islam tersemai dengan subur di madinah kesungguhan Mus‘ab bin Umair dalam berdakwah. Setiap hari dalam hidupnya senantiasa memberikan konstribusi baru bagi Islam di dalam dakwah dan jihad yang dilakukannya. Beliau adalah dai pertama dalam Islam di kota Madinah. Di tangannyalah sebagian besar penduduk Madinah berhasil diislamkan. Dia adalah peletak pertama fondasi Negara Islam Madinah. Dia adalah kontributor sesungguhnya bagi Islam dan jamaah kaum Muslim.

E.     Strategi Dakwah di Madinah
Beberapa strategi dirangka khusus setibanya Rasulullah s.a.w di Madinah. Semua strategi berpandukan kepada arahan dan tindakan Rasulullah s.a.w serta pengiktirafan baginda terhadap ide-ide daripada para sahabat baginda.
1.      Pembinaan Masjid
Masjid merupakan institusi dakwah pertama yang dibina oleh Rasulullah s.a.w setibanya baginda di Madinah. Ia menjadi nadi pergerakan Islam yang menghubungkan manusia dengan Penciptanya serta manusia sesama manusia. Masjid menjadi lambang akidah umat Islam atas keyakinan tauhid mereka kepada Allah SWT.
Pembinaan masjid dimulakan dengan membersihkan persekitaran kawasan yang dikenali sebagai ‘mirbad’ dan meratakannya sebelum menggali lubang untuk diletakkan batu-batu sebagai asas binaan. Malah, Rasulullah sendiri yang meletakkan batu-batu tersebut. Batu-batu itu kemudiannya disimen dengan tanah liat sehingga menjadi binaan konkrit.
Masjid pertama ini dibina dalam keadaan kekurangan tetapi penuh dengan jiwa ketaqwaan kaum muslimin di kalangan muhajirin dan ansar. Di dalamnya, dibina sebuah mimbar untuk Rasulullah menyampaikan khutbah dan wahyu daripada Allah. Terdapat ruang muamalah yang dipanggil ‘sirda’ untuk pergerakan kaum muslimin melakukan aktiviti kemasyarakatan. Pembinaan masjid ini mengukuhkan lagi dakwah baginda bagi menyebarkan risalah wahyu kepada kaum muslimin serta menjadi pusat perbincangan di kalangan Rasulullah dan para sahabat tentang masalah ummah.
2.      Mengukuhkan Persaudaraan
Rasulullah mengeratkan hubungan di antara Muhajirin dan Ansar sebagai platform mempersatukan persaudaraan di dalam Islam. Jalinan ini diasaskan kepada kesatuan cinta kepada Allah serta pegangan akidah tauhid yang sama. Persaudaraan ini membuktikan kekuatan kaum muslimin melalui pengorbanan yang besar sesama mereka tanpa mengira pangkat, bangsa dan harta. Selain itu, ia turut memadamkan api persengketaan di kalangan suku kaum Aus dan Khajraz.
3.      Pembentukan Piagam Madinah
Madinah sebagai sebuah Negara yang menghimpunkan masyarakat Islam dan Yahudi daripada pelbagai bangsa memerlukan kepada satu perlembagaan khusus yang menjaga kepentingan semua pihak. Justru, Rasulullah telah menyediakan sebuah piagam yang dikenali sebagai Piagam Madinah bagi membentuk sebuah masyarakat di bawah naungan Islam.
Piagam ini mengandungi 32 fasal yang menyentuh segenap aspek kehidupan termasuk akidah, akhlak, kebajikan, undang-undang, kemasyarakatan, ekonomi dan lain-lain. Di dalamnya juga terkandung aspek khusus yang mesti dipatuhi oleh kaum Muslimin seperti tidak mensyirikkan Allah, tolong-menolong sesama mukmin, bertaqwa dan lain-lain. Selain itu, bagi kaum bukan Islam, mereka mestilah berkelakuan baik bagi melayakkan mereka dilindungi oleh kerajaan Islam Madinah serta membayar cukai.
Piagam ini mestilah dipatuhi oleh semua penduduk Madinah sama ada Islam atau bukan Islam. Strategi ini telah menjadikan Madinah sebagai model Negara Islam yang adil, membangun serta digeruni oleh musuh-musuh Islam.
4.      Strategi Ketentaraan
Peperangan merupakan strategi dakwah Rasulullah di Madinah untuk melebarkan perjuangan Islam ke seluruh pelusuk dunia. Strategi ketenteraan Rasulullah digeruni oleh pihak lawan khususnya puak musyrikin di Mekah dan Negara-negara lain. Antara tindakan strategik baginda menghadapi peperangan ialah persiapan sebelum berlakunya peperangan seperti pengitipan dan maklumat musuh. Ini berlaku dalam peperangan Badar, Rasulullah telah mengutuskan pasukan berani mati seperti Ali bin Abi Talib, Saad Ibnu Waqqash dan Zubair Ibn Awwam bagi mendapatkan maklumat sulit musuh. Maklumat penting musuh memudahkan pasukan tentera Islam bersiap-sedia menghadapi mereka di medan perang.
Rasulullah turut membacakan ayat-ayat al-Quran bagi menggerunkan hati-hati musuh serta menguatkan jiwa kaum Muslimin. Rasulullah juga turut mengambil pandangan daripada para sahabat baginda dalam merangka strategi peperangan. Sebagai contoh, dalam peperangan Badar, baginda bersetuju dengan cadangan Hubab mengenai tempat pertempuran. Hubab mencadangkan agar baginda menduduki tempat di tepi air yang paling dekat dengan musuh agar air boleh diperolehi dengan mudah untuk tentera Islam dan haiwan tunggangan mereka. Dalam perang Khandak, Rasulullah bersetuju dengan pandangan Salman al-Farisi yang berketurunan Parsi berkenaan pembinaan benteng. Strategi ini membantu pasukan tentera Islam berjaya dalam semua peperangan dengan pihak musuh.
5.      Pemberian Cop Mohor
Rasulullah s.a.w mengutuskan surat dan watikah kepada kerajaan – kerajaan luar seperti kerajaan Rom dan Parsi bagi mengembangkan risalah dakwah. Semua surat dan watikah diletakkan cop yang tertulis kalimah la ila ha illahlah wa ana Rasullah. Tujuannya adalah untuk menjelaskan kedudukan Rasulullah s.a.w sebagai utusan Allah dan Nabi di akhir zaman. Dalam watikahnya, baginda turut menyeru agar mereka menyembah Allah dan bersama-sama berjuang untuk Islam sebagai agama yang diiktiraf oleh Allah. Kebanyakan watikah baginda diterima baik oleh kerajaan-kerajaan luar.
6.      Hubungan Luar
Hubungan luar merupakan orientasi penting bagi melabarkan sayap dakwah. Ini terbukti melalui tindakan Rasulullah menghantar para dutanya ke negara-negara luar bagi menjalinkan hubungan baik berteraskan dakwah tauhid kepada Allah. Negara-negara itu termasuklah Mesir, Iraq, Parsi dan Cina. Sejarah turut merakamkan bahawa Saad Ibn Waqqas pernah berdakwah ke negeri Cina sekitar tahun 600 hijrah. Sejak itu, Islam bertebaran di negeri Cina sehingga kini. Antara para sahabat yang menjadi duta Rasulullah ialah Dukyah Kalibi kepada kaisar Rom, Abdullah bin Huzaifah kepada kaisar Hurmuz, Raja Parsi, Jaafar bin Abu Talib kepada Raja Habsyah.
Strategi hubungan luar ini diteruskan pada pemerintahan khalifah Islam selepas kewafatan Rasulullah. Sebagai contoh, pasukan Salehuddin al-Ayubi di bawah pemerintahan Bani Uthmaniah telah berjaya menawan kota suci umat Islam di Baitul Maqdis. Penjajahan dan penerokaan ke Negara-negara luar merupakan strategi dakwah paling berkesan di seluruh dunia.

F.      Hikmah Dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah
Hikmah sejarah dakwah Rasulullah Saw antara lain:
1.      Dengan persaudaraan yang telah dilakukan oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshardapatmemberikan rasa aman dan tentram.
2.      Persatuan dan saling menghormati antar agama.
3.      Menumbuh-kembangkan tolong menolong antara yang kuat dan lemah, yang kaya dan miskin.
4.      Memahami bahwa umat Islam harus berpegang menurut aturan Allah SWT.
5.      Memahami dan menyadaribahwa kita wajib agar menjalin hubungan dengan Allah swt danantara manusia dengan manusia.
6.      Kita mendapatkan warisan yang sangat menentukan keselamatan kita baik di dunia maupun diakhirat.
7.      Menjadikan inspirasi dan motivasi dalam menyiarkan agama Islam.
8.      Terciptanya hubungan yang kondusif

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Strategi dakwah Rasulullah s.a.w di Madinah lebih agresif dan besar. Madinah, sebagai Negara Islam pertama menjadi nadi pergerak dakwah Islam ke seluruh dunia. Tapak yang disediakan oleh Rasulullah s.a.w begitu kukuh sehingga menjadi tauladan kepada pemerintahan Islam sehingga kini. Strategi yang bersumberkan kepada dua perundangan utama iaitu al-Quran dan Hadis menjadi intipati kekuatan perancangan Islam dalam menegakkan kalimah Tauhid. Sukses hijrah Nabi Muhammad SAW ditandai, antara lain, keberhasilannya mencerdaskan masyarakat Muslim yang bodoh menjadi umat yang cerdas, menyejahterakan sosial ekonomi umat dan masyarakat dengan asas keadilan dan pemerataan, serta penegakan nilai etik-moral dan norma hukum yang tegas. Pendeknya, Nabi Muhammad SAW berhasil membangun kesalehan ritual yang paralel dengan kesejahteraan material, ketaatan individual yang seiring dengan kepatuhan sosial, dan terwujudnya kesejahteraan duniawiah-temporal yang seimbang dengan keberkahan ukhrawiah yang kekal.
Sebuah fakta sejarah kemudian membuktikan bahwa proses penyebaran Islam dengan dakwah jauh lebih cepat dan berkembang pada periode Madinah ini dibandingkan periode Mekkah. Selain itu juga di Madinah, Rasulullah dan Umat Islam berhasil membangun tata peradaban baru, tata pemerintahan, tata ekonomi dan sosial yang demikian pesat perkembangannya.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Ismail, Tahia; 2001; Sejarah Ringkas Muhammad SAW (diterjemahkan oleh A. Nasir Budiman); Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada.
Rahimsyah, Burhan; Kisah Teladan 25 Nabi & Rasul; Jombang; Lintas Media.
Watt, W. Montgomery; 2006; Muhammad Nabi dan Negarawan (diterjemehkan oleh Djohan Effendi); Depok; Penerbit Mushaf.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar